![]() |
| foto: internet |
Pergantian
penanggalan Hijriyah terjadi begitu waktu magrib tiba, berbeda dengan Masehi
yang detik perubahan tanggalnya berlangsung tengah malam. Ini tentunya juga
berpengaruh pada sikap dan cara orang-orang dalam menyambutnya.
Bila
Hijriyah berada di ujung siang, maka agama memang menyebut bahwa siang adalah
masa manusia untuk berusaha. Diawali dengan tibanya waktu Asar sebagai aba-aba
supaya manusia sudah harus bersiap-siap dan berkemas, sebab sebentar lagi
Matahari akan tenggelam dan malam segera menjelang. Usai sudah karya di hari
ini, semoga saja semenjak kita memulai hari dari tadi malam dengan perencanaan
terbaik, dengan istirahat yang cukup dan ibadah yang khusyuk apa yang sudah
kita lakukan kita serahkan kepada Tuhan, sebab kita sudah menanam benih dan
Dia-lah yang menumbuhkan.
Sementara
tahun Masehi yang pertukarannya berada di tengah malam mengharuskan orang-orang
(para hambanya) untuk menunggu detik-perdetik tengah malam. Pesta pora digelar,
di mana-mana tempat hiburan dan perbelanjaan men-discount berbagai
produknya dan berias secantik mungkin. Tidak ada doa dan wiridan, yang ada
bahkan sebaliknya; letusan mercun, kembang api dan bahkan pesta sek. Padahal
Tuhan mengatakan bahwa malam diciptakan sebagai pakayan atau kesempatan untuk
beristirahat.
Diambilnya
momentum hijrah sebagai penamaan tahun Islam di masa khalifah Umar bukanlah juga
tanpa ada opsi lainnya. Tetapi hijrah itu adalah bergerak, ia energi untuk
segera berpindah, baik dari satu tempat ke tempat lainnya yang pada masa itu
dari Mekah ke Madinah, maupun berpindah pada tataran niat (intention) dari segala
kebiasaan buruk, laku yang kurang baik menuju pribadi yang menjunjung
keberadaban. Dan dalam sejarah, paska hijrahlah agama ini mengalami perkembangan
yang cukup pesat.
Karena
itu, kedatangan tahun baru Hijriyah ini adalah momentum tahunan bagi kita untuk
menoleh sejenak ke belakang dan menyusun langkah ke depan. Muhasabah, introspeksi,
re-schedule, dan dalam itu semua tidak ada hura-hura, tidak ada mercun
yang meledak atau kembang api yang membakar langit. Semuanya tentang
kerja-kerja yang belum sempurna sebagai khalifah yang kita mintakan ampunan Tuhan,
semuanya tentang mimpi-mimpi masa depan yang kita harapkan dipeluk oleh Tuhan.
Maka,
mari memandang dengan kejernihan pikiran dan kebeningan nurani pada sesuatu yang
layak kita semarakkan. Berorientasilah pada substansi, sebab waktu tidak bisa
ditukar dengan apa pun, sekali dia lewat lepas sudah untuk selamanya. Bila pada
permulaan saja mata kita telah kabur, maka mutiara mana lagi yang bisa kita
pungut di sepanjang penyelaman samudra kehidupan ini.
Selamat
tahun baru 1439 Hijriyah.
BACA JUGA:

0 komentar: